Jika awalnya saya memilih profesi ini karena orang tua, tapi pada pendidikan lanjut saya mulai menyukainya seiring dengan semakin lamanya saya mendalami ilmu dalam profesi ini saya makin tertarik dengan segala hal yang berkaitan dengan jalan yang dipilihkan orang tua ini. Ibarat sebuah pernikahan, ini mungkin yang disebut perjodohan awalanya saya tidak mau karena bujuk rayu mama akhirnya saya pasrah hitung-hitung membahagiakan orang tua.

Saat semester awal D3 dulu saya masih menyesuaikan diri barulah saya mulai suka pada semester akhir. Nah itulah yang kemudian memotivasi saya untuk melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi, Setelah D3 ingin rasanya kuliah D4, tapi sekali lagi karena berbagai pertimbangan dan mungkin juga ini nasib saya malah masuk ke S1. Harapannya saya bisa lebih lagi dalam profesi saya, baik itu lebih menguasai maupun lebih mencintai profesi saya. Tapi setelah dijalani kok lama kelamaan malah semakin buram, dari awalnya saya ingin mencari cahaya eh malah semakin buram saja. bukannya malah semakin mencintai malah semakin tidak jelaslah semua. Perasaan semakin bercampur aduk, pernah terpikir ingin mundur saja, yah tapi kalau mundur itu artinya sebuah perceraian artinya rumahtangga yang dijodohkan tadi gagal dong.

Untuk sekarang, mungkin hanya bisa mencari semangat, dan semangat itu hanya bisa aku temukan dari keluarga. Dari cinta merekalah mungkin aku bisa mencari cara untuk mencintai profesi ku. Karena manusia tidak dapat bekerja (melakukan sesuatu) secara maksimal tanpa didasari rasa sayang dan cinta pada perbuatannya itu. Satu yang saya percaya selama kita memikirkan hal yang positif, melakukan perbutan yang positif tentu hasilnya pun akan positif (baik).